Jalan dan Hujan

Posted on Posted in Think

Konon, salah satu cara mengukur tingkat kesejateraan suatu Negara adalah dengan pendapatan per kapita, GDP, angka harapan hidup dan sejenisnya. Tetapi diakhir bulan Mei dua tahun lalu(2013), dibawah rintik hujan sebuah pertanyaan menggelitik muncul di benak saya. Apakah mungkin kesejahteraan suatu Negara diukur dari kondisi jalanan Negara tersebut?

Saat hujan tadi-terima kasih kepada Global Warming yang menyebabkan anomali cuaca di bulan Mei- banyak jalanan di Depok yang tergenang dengan air hujan, sebagai informasi jalanan yang saya maksud berada di daerah Kukusan Kelurahan berdekatan dengan kompleks Universitas Indonesia. Saat itu saya baru saja pulang dari perkuliahan menuju kosan dengan berjalanan kaki. Di sepanjang perjalanan saya, celana saya terciprati oleh banyak kotoran tanah yang bertebaran kala hujan.

Tak cukup dengan cipratan, di beberapa tempat saya harus melangkahkan kaki saya ke dalam genangan yang sangat dalam (yang menurut prediksi saya dari luas areal dan kedalaman genangannya cukup untuk memelihara beberapa ikan). Lalu, keadaan mental bangsa kita yang kalau sudah diatas motor semaunya sendiri semakin memperparah kondisi saya, beberapa kali motor yang ngebut melewati saya dengan seenaknya menciprati pakaian saya yang memang sudah kotor.

Sesaat setelah “dimandikan” oleh beberapa pengendara motor yang terburu-buru, perjalanan pulang saya lanjutkan dengan menggerutu serta beberapa makian pendek. Setelah beberapa langkah saya lewati, ternyata kemalangan belum jauh-jauh dari saya. Sebuah lubang besar yang tertutupi oleh genangan gagal saya hindari. Dan Jleb, tanpa peringatan kaki saya masuk ke lubang tadi (yang lagi-lagi cukup dalam) dan sandal jepit yang saya kenakan putus.

Mungkin pembaca bertanya, bagaimana mungkin sebuah lubang besar yang menganga tidak dapat dihindari padahal penulis sudah berjalan kaki? Jawabannya simple, genangan kecokelatan yang menutupi lubang tadi berhasil dengan sukses mengelabui saya untuk melangkahkan kaki tanpa khawatir.

Dengan frustasi saya mencoba untuk menyambungkan kembali sandal jepit yang putus,dan setelah sadar usaha saya untuk menyambungkan sandal sia-sia. Maka saya putuskan untuk membuang sandal jepit tadi (tentunya ke tempat sampah penduduk, karena tidak ada tempat sampah dari pemerintah di sepanjang jalan) dan melanjutkan perjalanan pulang. Dengan bertelanjang kaki saya mencoba mengambil resiko berjalan di aspal Depok. Beberapa langkah awal yang saya coba, cukup menyakitkan fisik dan hati.

Dari segi fisik, ternyata banyak sekali batu kecil yang bertebaran di jalan dan batu kecil tadi tanpa ampun menusuk kaki saya. Saat pandangan saya edarkan ke sekeliling saya, tampak banyak sekali batu kecil bahkan beberapa batu kerikil yang akan cukup sakit kalau terkena kaki saya. Pikiran negatif saya membisiki kekhawatiran tentang paku yang mungkin tertutupi genangan air (konon ditebari dengan sengaja untuk menggembosi ban kendaraan bermotor).

Dari segi hati, cukup menyakitkan bahwa orang-orang yang melihat live kejadian putusnya sandal saya hanya tertawa saja. Beberapa orang yang saya lihat sedang nongkrong juga tanpa malu-malu terlihat sama-sama menertawakan. Meskipun jika menjadi penonton mungkin saya akan ikut tertawa (bahkan setelah kejadian tadi berlalu saya pikir musibah yang saya alami lucu juga) tetapi bukankah tidak baik tertawa diatas penderitaan orang lain? Inikah keadaan sejati bangsa kita yang dicap sebagai bangsa “ramah” padahal di dalamnya berisi orang-orang yang dengan senang hati tertawa saat orang lain kesulitan.

Setelah shock dengan sakitnya jalanan dan untuk menghindari tatapan geli orang-orang yang melihat saya bertelanjang kaki maka saya memutuskan untuk membeli sepasang sandal jepit dan sisa perjalanan pulang terasa berkurang menyakitkan. Sesaat kemudian saya sudah sampai di di depan Kosan saat saya teringat baju saya sudah habis dan saya belum mengambil laundry. Maka saya berjalan menuju tempat laundry, jalanan menuju tempat Laundry adalah sebuah turunan yang ternyata sangat licin saat hujan turun. Beberapa kali saya berakrobat untuk menghindari slip dan musibah lebih lanjut.

Selesai transaksi dan baju saya sudah saya bawa, saya bergegeas pulang. Turunan yang tadi saya lewati berubah menjadi tanjakan, di samping saya seorang penjual bakso tampaknya baru keluar untuk berjualan. Dengan ramah ia menyapa mas-mas laundry, dan mereka bertukar senyum. Hal yang mau tidak mau membuat saya ikut tersenyum.

Kebetulan saya dan penjual bakso tadi menaiki tanjakan bersama, dan saat kami menaikinya. Prang! Penjual bakso tadi terpleset di tanjakan dan gerobak yang ia bawah terguling. Sekilas saya melihat dengan horror saat gerobak penjual bakso tadi menghantam kepala si penjual bakso. Saya shock dan terpana. Dunia benar-benar berhenti sejenak saat kejadian tadi berlangsung, karena saya masih bisa mengingat dengan detail saat mangkok-mangkok dan ember si penjual bakso terpental dari gerobak yang Dia bawa dan terjatuh di jalanan. Sejenak saya tak mampu bergerak.

Mas-mas laundry adalah orang pertama yang bereaksi, Ia cepat-cepat memapah tukang bakso dan mendudukannya di depan Laundry. Beberapa orang langsung mendirikan gerobak bakso yang terguling, dan saya memunguti beberapa mangkuk serta ember. Ajaibnya tidak ada mangkuknya yang pecah. Tak ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Tak ada yang melihat dengan tatapan geli, orang-orang ini membantu dalam diam.

Lucunya si penjual bakso adalah orang yang tertawa pertama, setelah gerobak dan mangkuk-mangkuk tadi sudah kembali ketempatnya ia bersikeras untuk melanjutkan berjualan. Mas-mas laundry mengingatkan penjual bakso untuk lebih hati-hati di jalanan dan mereka kembali bertukar senyum saat saling melambaikan tanda perpisahan seakan tidak terjadi apa-apa.

Semua kejadian yang saya alami dan saksikan hampir semuanya berasal dari jalanan, jika dihubungkan dengan pertanyaan saya diawal. Kalau saja jalanan dapat dijadikan tolak ukur kemajuan negara maka kita adalah Negara yang sangat-sangat yah begitu deh, terbukti dari jalanan yang penuh krikil, lubang, licin dan berbau kejahatan.

Di akhir, saya sering mendengar kabar kalau sebenarnya anggaran untuk jalanan masih sering dikorupsi oleh pihak opportunist. Kalau saja itu benar maka saya akan mengusulkan bahwa seharusnya hukuman untuk koruptor sebaiknya ditambah dengan dijedotkan kepalanya ke gerobak bakso biar mereka bisa merasakan hasil perbuatan mereka terhadap rakyat yang mati-matian berjuang diatas jalanan yang mereka korupsi anggarannya.

Semoga kedepan ada perbaikan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *