Jangan Lupa Sejarah!

Posted on Posted in Think

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”

history

Quotes tersebut diucapkan oleh salah satu presiden Indonesia, tepatnya presiden pertama Indonesia, Soekarno. Semangat quotes tersebut, untuk tidak meninggalkan atau melupakan sejarah, akan diteruskan dalam tulisan ini. Sebagai salah satu pendiri bangsa, banyak orang melihat beliau sebagai pahlawan, beliau sendiri menyebut dirinya sebagai “pahlawan revolusi”[i], akan tetapi tulisan ini akan mencoba mendekonstruksi warisan yang beliau tinggalkan dalam bidang politik ekonomi dan mencoba bertanya “Sebenarnya warisan seperti apakah yang beliau tinggalkan?”. Tujuannya adalah untuk menganalisis, apakah dampak warisan beliau terhadap kondisi ekonomi dan politik bangsa Indonesia saat ini.

Sebelum membahas Soekarno, ada baiknya kita bertanya, “Apakah saat ini Indonesia sudah maju secara ekonomi?”. Jawabannya meskipun bisa diperbebatkan akan saya jawab, “relatif belum”. Hal ini saya dasari pada koefisien gini Indonesia yang berada pada nilai 41[ii], artinya sedang, tidak terlalu tinggi maupun rendah, pendapata per kapita yang masih dibawah rata-rata dunia, dan angka kemiskinan yang masih diatas 10%[iii]. Data tersebut pun, sejujurnya tidak menggambarkan secara lengkap kondisi riil di Indonesia. Contohnya adalah pembangunan infrastruktur yang tidak merata, tingkat penggangguran yang masih tinggi, dan minimnya inovasi yang dihasilkan oleh Indonesia.

Lalu apa hubungan itu semua dengan Soekarno? Saya percaya events atau serangkaian kejadian yang terjadi di masa lalu dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi di masa ini. Indonesia paska-kemerdekaan masih mencoba mencari identitasnya, dan sebagai presiden pertama, Soekarno-lah yang memimpin pencarian jati diri bangsa ini. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perubahan yang terjadi dalam struktur pemerintah, seperti pergantian kabinet sebanyak 17 kali dari tahun 1945-1958, perubahan konstitusi 1945 menjadi konstitusi (Undang-undang dasar sementara) 1950, dan demokrasi terpimpin. Pada saat masa demokrasi terpimpin inilah Hatta mengundurkan diri karena merasa sudah tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Perlu dipahami periode pencarian jati diri sangat penting terhadap identitas suatu bangsa di masa depan. Meski terdapat banyak variasi, tetapi ada satu benang merah yang dapat ditarik. Pencarian jati diri tersebut akhirnya bersifat authoritarian. Institusi politik yang dibentuk di jaman Soekarno bukanlah institusi politik yang terbuka.

Dalam bukunya, Why Nations Fail, Daron Acemoglu dan James Robinson berargumen bahwa yang menjadi alasan utama sebuah negara sejahtera adalah Institusi politik yang dianut di negara tersebut. Beberapa ciri insitusi politik inklusif adalah ada nya “Rule of Law” dan “Kebebasan untuk memiliki properti atau bisnis”.

Ditinjau dari sisi politik, Soekarno tidak menerapkan “Rule of law” atau diperintah oleh hukum. Rule of law secara sederhana adalah sebuah prinsip dimana negara harus diperintah oleh hukum dan tidak bisa dibawah kendali satu orang. Pada tahun 1959, Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli yang berisi pembentukan MPRS. MPRS ini lah yang menyetujui pengangkatan Soekarno menjadi presiden seumur hidup, bagaimana bisa? Karena MPRS ini berisi oleh orang-orang yang memberi dukungannya untuk Soekarno sehingga tidak ada yang menentang beliau. Dengan tidak ada yang menentang beliau, akhirnya tidak ada mekanisme check and balance sehingga jika ada kebijakan Soekarno yang nyeleneh maka tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebijakan-kebijakan beliau. Contohnya untuk membiayai pembangunan proyek olahraga Soekarno mencetak uang secara berlebih, sehingga di tahun 1965 inflasi mencapai lebih dari 500%.

Contoh lain, disisi Ekonomi, di tahun 1958 Indonesia membentuk BANAS (Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda) yang menjadikan nasionalisasi perusahaan asing legal, perusahaan Belanda akhirnya dinasionalisasi oleh militer, akibatnya perusahaan yang dinasionalisasi menjadi ladang korupsi bagi anggota militer, perusahaan dijalankan secara tidak efisien, dan terjadi penurunan produktivitas. Ketidakefisiensian pengelolaan perusahaan nasional ini masih dapat dilihat sampai sekarang (Ya, PLN yang saya maksud kamu). Praktik nasionalisasi ini dapat dilihat dari perwujudan pemikiran Soekarno. Soekarno adalah penganut paham Marxisme dan Leninisme, yang beranggapan bahwa “wealth” atau kekayaan harus disebarkan secara merata. Permasalahan utama dari pemikiran ini adalah, hal ini tidak mendorong timbulnya inovasi dari kalangan rakyat karena mengurangi insentif bagi individu. Untuk apa saya menciptakan smartphone kalau akhirnya inovasi tersebut akan disita atau diklaim oleh negara sebagai bagian dari “pemerataan kekayaan”. Lihat akibatnya, apakah ada inovasi di periode tersebut?

Jika dilihat dan dianalisis, maka terlihat sekali bahwa Soekarno ingin sekali mempertahankan kekuasaanya (dekrit 5 Juli, pembentukan MPRS). Kenapa Kenapa sang Putra Fajar sampai bersikap merugikan negara yang dia bangun dengan terus memertahankan kekuasaan beliau? Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu ke sebuah negara di Afrika bernama Ethiopia. Sampai tahun 1974, Ethiopia menganut sistem kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Haile Selassie, konon raja-raja Ethiopia adalah keturunan lansung dari Sulaiman. Raja Haile akan memulai harinya dengan mengadakan audiensi di Istana untuk mendengarkan pendapat “rakyatnya”, pada kenyataanya rakyat yang didengarnya adalah orang-orang terdekatnya yang mengontrol kegiatan ekonomi di Ethiopia. Di tahun yang sama sang raja digulingkan oleh pasukan militer dan setelah 4 tahun terjadi perebutan kekuasaan akhirnya keluarlah pemimpin militer yang bernama Mengistu sebagai pemimpin Ethiopia. Pada awalnya, semangat revolusi masih kental, gaya hidup borjuis dikutuk dan semangat gotong royong membangun negara menjadi mantera bagi setiap orang. Sayangnya, semenjak Mengistu menjadi pemimpin, gaya hidupnya berubah, dia memakai istana Raja Haile yang lama, simbol rezim lama, sebagai kantornya. Dia juga mulai menggunakan mobil raja terdahulu, dan mulai hidup bermewah-mewahan. Teman seperjuangannya mengatakan bahwa dia telah berubah, entahlah, mungkin dia yang berubah atau sifat aslinya yang keluar.

Solomonic

Familiar dengan cerita di Indonesia Keserakahan satu manusia kadang menjadi penyebab kejatuhan kelompok manusia yang lebih besar. Saat seseorang sudah menggenggam kekuasaan, dia akan berusaha memertahankan-nya dengan dalih sebagai “orang terpilih”. Seperti kata John Emmerich, “Power corrupt, absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always a bad man” . Andai kan sang Putra Fajar bisa legowo dan meninggalkan kebijakan yang berkelanjutkan dan mengaplikasikan long term thinking (insentif bagi usaha ekonomi, cek and balance bagi penguasa, dan sistem birokrasi yang transparan serta responsif) dan pensiun dalam damai maka mungkin Indonesia bisa lebih baik saat ini. Sayangnya, warisan tersebut tidak ada, sehingga pemimpin yang datang setelahnya tidak berhadapan dengan metode check and balance dan sama-sama menganggap dirinya “orang terpilih”. Ini lingkaran setan, yang semoga telah terputus di tahun 1998. Meminjam istilah Sir Alex Ferguson, “Tidak ada pemain yang lebih besar dari Klub-nya” maka tidak ada satu sosok pun, presiden, orang terpilih, siapapun itu, yang lebih besar dari Indonesia.

Soekarno sebagai sosok, adalah orang yang tepat sebagai penggerak kemerdekaan dan saya akan berargumen bahwa dia pantas dijuluki pahlawan revolusi, tetapi sebagai presiden pertama Indonesia kebijakan-kebijakan beliau tidak mendukung kemajuan Indonesia (bandingkan dengan kebijakan awal Korea Selatan di masa awal kemerdekaan, mereka jauh lebih miskin dan tidak memiliki SDA sebanyak Indonesia). Soekarno, sang presiden, adalah sosok “style over substance”, yang banyak menyampaikan pidato berapi tapi tidak memiliki kebijakan ekonomi dan politik yang terarah dan berkelanjutan. Sayangnya dalam kehidupan demokrasi pun, sering sekali kita memilih “sosok” pemimpin-nya di banding kan “policy”-nya. Please peoples, cast your voice for a sound policy!

Jangan pernah melupakan sejarah, jangan pernah lupa bagaimana seorang yang awalnya berjuang demi kepentingan banyak orang menjadi seseorang yang haus kekuasaan. Jangan pernah lupa.

Sejujurnya, saya ragu dengan angka ini, karena patokan kemiskinan yang dipakai bisa berbeda (patokan World Bank sekarang 1.25 USD)

Quotes ini dipakai dalam film Batman v Superman, dan penggunaan nya sangaat di luar konteks since Superman is no ruler and his power is “physical power” WB why you release this goddamn movie and ruin my favorite character

Berdasarkan GDP waktu itu

[i] httpswww.youtube.comwatchv=c-rxSEJlPCY

[ii] httpwww.worldbank.orgennewsfeature20151208indonesia-rising-divide

[iii] httpbps.go.idbrsview1158

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *