Ketika Sepakbola lebih dari Olahraga

Posted on Posted in Think

Saya adalah penggemar sepakbola sejak kecil, pertandingan serius pertama yang saya tonton adalah Liga Inggris antara Birmingham City melawan West Bromwich Albion, pertandingan tersebut berakhir dengan kedudukan 3-2.

Setelah bertahun-tahun mengikuti sepakbola, saya perlahan-lahan menyadari terkadang suporter sepakbola terlalu loyal dengan tim yang dia dukung. Loyalitas buta tersebut kadang berujung dengan kekerasan, contohnya Tragedi Stadium Heysel antara Juventus dan Liverpool di pertengahan 1980-an, bentrokan suporter Rusia and Inggris di Euro 2016, dan banyak pertandingan Liga Indonesia. Salah satu sekolah di kota saya-SMAN 2 Tangerang-konon katanya, meliburkan diri saat ada pertandingan antara Persita dan Persikota Tangerang, alasannya dulu saat ada pertandingan derby Tangerang, ada batu yang dilempar ke sekolah. Sebagai konteks lokasi sekolah tersebut persis di samping Stadion Benteng, markas bersama Persikota dan Persita dulu.

Yang ingin saya katakan adalah, saat seseorang mulai mengasosiakan identitasnya dengan suatu kelompok, interaksi dengan orang lain yang berasosiasi dengan kelompok yang berbeda dapat menjadi sumber perselisihan. Sederhananya, menggunakan bahasa grafiti yang sering saya temui di jalanan Jakarta, “Kalo gw dukung Persija, Persib A*nji*g” sebaliknya “Kalo gw dukung Persib, Persjia T*i”. (Can you believe they use those kind of language?)

Tahun lalu, di salah satu pertandingan Liga Inggris ada kejadian yang merubah perspektif saya.

Pertandingan tersebut adalah Sunderland melawan Everton, Everton memenangkan pertandingan dengan skor akhir 3-0. Yang menarik perhatian saya adalah maskot dari tim Sunderland. Maskot disepakbola umumnya adalah anak yang mendampingi pemain memasuki lapangan, kenapa anak? Semata-mata sebagai simbol, untuk membawa elemen innocent atau kepolosan ke dalam game.

Maskot dari tim Sunderland saat itu adalah Bradley Lowery, enam tahun dari Blackhall Colliery. Bradley menderita Neuroblastoma-kanker jaringan saraf. Sejak kecil, Bradley adalah pendukung Sunderland, bisa dibayangkan betapa senangnya dia saat menjadi maskot klub kebanggaanya mendampingi Jermain Defoe, pemain favoritnya. Lalu di menit ke-lima pertandingan, lima adalah nomor punggung yang dipakai Bradley, fans dari kedua klub, Everton dan Sunderland, menyanyikan bersama yel-yel “Only One Bradley Lowery”. Tidak peduli, warna kaos yang mereka kenakan, identitas klub yang mereka asosiasikan, fans dari kedua klub menunjukan dukungan dan menyemangati sang anak agar melewati struggle-nya. Di akhir pertandingan, Everton menyumbang sekitar 3.4 miliar untuk pengobatan sang anak. In the end, sepakbola hanyalah sebuah permainan, ribut-ribut sampai terjadi bentrok suporter yang menyebabkan luka di kedua belah pihak mengabaikan bahwa hidup seseorang, siapapun dia, perlu diapresiasikan sebesar-besarnya

Kabar terakhir, pengobatan Bradley tidak sukses dan saat tulisan ini dibuat dia hanya tinggal punya beberapa minggu.

Young man, you have fought bravely, in time when older people competing on who can tear each other apart faster, you have gave us a glimpse  what we can achieve, when we unite.

Image credit: Getty Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *