Jangan Lupa Sejarah!

“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”

history

Quotes tersebut diucapkan oleh salah satu presiden Indonesia, tepatnya presiden pertama Indonesia, Soekarno. Semangat quotes tersebut, untuk tidak meninggalkan atau melupakan sejarah, akan diteruskan dalam tulisan ini. Sebagai salah satu pendiri bangsa, banyak orang melihat beliau sebagai pahlawan, beliau sendiri menyebut dirinya sebagai “pahlawan revolusi”[i], akan tetapi tulisan ini akan mencoba mendekonstruksi warisan yang beliau tinggalkan dalam bidang politik ekonomi dan mencoba bertanya “Sebenarnya warisan seperti apakah yang beliau tinggalkan”. Tujuannya adalah untuk menganalisis, apakah dampak warisan beliau terhadap kondisi ekonomi dan politik bangsa Indonesia saat ini.

Sebelum membahas Soekarno, ada baiknya kita bertanya, “Apakah saat ini Indonesia sudah maju secara ekonomi”. Jawabannya meskipun bisa diperbebatkan akan saya jawab, “relatif belum”. Hal ini saya dasari pada koefisien gini Indonesia yang berada pada nilai 41[ii], artinya sedang, tidak terlalu tinggi maupun rendah, pendapata per kapita yang masih dibawah rata-rata dunia, dan angka kemiskinan yang masih diatas 10%[iii]. Data tersebut pun, sejujurnya tidak menggambarkan secara lengkap kondisi riil di Indonesia. Contohnya adalah pembangunan infrastruktur yang tidak merata, tingkat penggangguran yang masih tinggi, dan minimnya inovasi yang dihasilkan oleh Indonesia.

Lalu apa hubungan itu semua dengan Soekarno Saya percaya events atau serangkaian kejadian yang terjadi di masa lalu dapat digunakan untuk menjelaskan kondisi di masa ini. Indonesia paska-kemerdekaan masih mencoba mencari identitasnya, dan sebagai presiden pertama, Soekarno-lah yang memimpin pencarian jati diri bangsa ini. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perubahan yang terjadi dalam struktur pemerintah, seperti pergantian kabinet sebanyak 17 kali dari tahun 1945-1958, perubahan konstitusi 1945 menjadi konstitusi (Undang-undang dasar sementara) 1950, dan demokrasi terpimpin. Pada saat masa demokrasi terpimpin inilah Hatta mengundurkan diri karena merasa sudah tidak sejalan lagi dengan Soekarno. Perlu dipahami periode pencarian jati diri sangat penting terhadap identitas suatu bangsa di masa depan. Meski terdapat banyak variasi, tetapi ada satu benang merah yang dapat ditarik. Pencarian jati diri tersebut akhirnya bersifat authoritarian. Institusi politik yang dibentuk di jaman Soekarno bukanlah institusi politik yang terbuka.

Dalam bukunya, Why Nations Fail, Daron Acemoglu dan James Robinson berargumen bahwa yang menjadi alasan utama sebuah negara sejahtera adalah Institusi politik yang dianut di negara tersebut. Beberapa ciri insitusi politik inklusif adalah ada nya “Rule of Law” dan “Kebebasan untuk memiliki properti atau bisnis”.

rule of law

Ditinjau dari sisi politik, Soekarno tidak menerapkan “Rule of law” atau diperintah oleh hukum. Rule of law secara sederhana adalah sebuah prinsip dimana negara harus diperintah oleh hukum dan tidak bisa dibawah kendali satu orang. Pada tahun 1959, Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli yang berisi pembentukan MPRS. MPRS ini lah yang menyetujui pengangkatan Soekarno menjadi presiden seumur hidup, bagaimana bisa Karena MPRS ini berisi oleh orang-orang yang memberi dukungannya untuk Soekarno sehingga tidak ada yang menentang beliau. Dengan tidak ada yang menentang beliau, akhirnya tidak ada mekanisme check and balance sehingga jika ada kebijakan Soekarno yang nyeleneh maka tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebijakan-kebijakan beliau Contohnya untuk membiayai pembangunan proyek olahraga Soekarno mencetak uang secara berlebih, sehingga di tahun 1965 inflasi mencapai 500% lebih.

Contoh lain disisi Ekonomi, di tahun 1958 Indonesia membentuk BANAS (Badan Nasionalisasi Perusahaan Belanda) yang menjadikan nasionalisasi perusahaan asing legal, perusahaan Belanda akhirnya dinasionalisasi oleh militer, akibatnya Perusahaan menjadi ladang korupsi bagi anggota militer, perusahaan dijalankan secara tidak efisien, dan terjadi penurunan produktivitas. Ketidakefisiensian pengelolaan perusahaan nasional ini masih dapat dilihat sampai sekarang (Ya, PLN yang saya maksud kamu). Praktik nasionalisasi ini dapat dilihat dari perwujudan pemikiran Soekarno. Soekarno adalah penganut paham Marxisme dan Leninisme, yang beranggapan bahwa “wealth” harus disebarkan secara merata. Permasalahan utama dari pemikiran ini adalah, hal ini tidak mendorong timbulnya inovasi dari kalangan rakyat karena mengurangi insentif bagi individu. Untuk apa saya menciptakan Smartphone kalau akhirnya inovasi tersebut akan disita oleh negara sebagai bagian dari “pemerataan kekayaan”. Lihat akibatnya, apakah ada inovasi di periode tersebut

Jika dilihat dan dianalisis, maka terlihat sekali bahwa Soekarno ingin sekali memertahankan kekuasaanya (dekrit 5 Juli, pembentukan MPRS). Kenapa Kenapa sang Putra Fajar sampai bersikap merugikan negara yang dia bangun dengan terus memertahankan kekuasaan beliau Untuk menjawabnya, mungkin kita perlu ke sebuah negara di Afrika bernama Ethiopia. Sampai tahun 1974, Ethiopia menganut sistem kerajaan dipimpin oleh seorang raja bernama Haile Selassie, konon raja-raja Ethiopia adalah keturunan lansung dari Sulaiman. Raja Haile akan memulai harinya dengan mengadakan audiensi di Istana untuk mendengarkan pendapat “rakyatnya”, pada kenyataanya rakyat yang didengarnya adalah orang-orang terdekatnya yang mengontrol kegiatan ekonomi di Ethiopia. Di tahun yang sama sang raja digulingkan oleh pasukan militer dan setelah 4 tahun terjadi perebutan kekuasaan akhirnya keluarlah pemimpin militer yang bernama Mengistu sebagai pemimpin Ethiopia. Pada awalnya, semangat revolusi masih kental, gaya hidup borjuis dikutuk dan semangat gotong royong membangun negara menjadi mantera bagi setiap orang. Sayangnya, semenjak Mengistu menjadi pemimpin, gaya hidupnya berubah, dia memakai istana Raja Haile yang lama, simbol rezim lama, sebagai kantornya. Dia juga mulai menggunakan mobil raja terdahulu, dan mulai hidup secara lavish-bermewah-mewahan. Teman seperjuangannya mengatakan bahwa dia telah berubah, entahlah, mungkin dia yang berubah atau sifat aslinya yang keluar.

Solomonic

Familiar dengan cerita di Indonesia Keserakahan satu manusia kadang menjadi penyebab kejatuhan kelompok manusia yang lebih besar. Saat seseorang sudah menggenggam kekuasaan, dia akan berusaha memertahankan-nya dengan dalih sebagai “orang terpilih”. Seperti kata John Emmerich, “Power corrupt, absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always a bad man” . Andai kan sang Putra Fajar bisa legowo dan meninggalkan kebijakan yang berkelanjutkan (insentif bagi usaha ekonomi, cek and balance bagi penguasa, dan sistem birokrasi yang transparan serta responsif) dan pensiun dalam damai maka mungkin Indonesia bisa lebih baik saat ini. Sayangnya, warisan tersebut tidak ada, sehingga pemimpin yang datang setelahnya tidak berhadapan dengan metode check and balance dan sama-sama menganggap dirinya “orang terpilih”. Ini lingkaran setan, yang semoga telah terputus di tahun 1998. Meminjam istilah Sir Alex Ferguson, “Tidak ada pemain yang lebih besar dari Klub-nya” maka tidak ada satu sosok pun, presiden, orang terpilih, siapapun itu, yang lebih besar dari Indonesia.

Soekarno sebagai sosok, adalah orang yang tepat sebagai penggerak kemerdekaan dan saya akan berargumen bahwa dia pantas dijuluki pahlawan revolusi, tetapi sebagai presiden pertama Indonesia kebijakan-kebijakan beliau tidak mendukung kemajuan Indonesia (bandingkan dengan kebijakan awal Korea Selatan di masa awal kemerdekaan, mereka jauh lebih miskin dan tidak memiliki SDA sebanyak Indonesia). Soekarno, sang presiden, adalah sosok “Style over substance”, yang banyak menyampaikan pidato berapi tapi tidak memiliki kebijakan ekonomi dan politik yang terarah dan berkelanjutan. Sayangnya dalam kehidupan demokrasi pun, sering sekali kita memilih “sosok” pemimpin-nya di banding kan “policy”-nya. Please peoples, cast your voice for a sound policy!

Jangan pernah melupakan sejarah, jangan pernah lupa bagaimana seorang yang awalnya berjuang demi kepentingan banyak orang menjadi seseorang yang haus kekuasaan. Jangan pernah lupa.

Sejujurnya, saya ragu dengan angka ini, karena patokan kemiskinan yang dipakai bisa berbeda (patokan World Bank sekarang 1.25 USD)

Quotes ini dipakai dalam film Batman v Superman, dan penggunaan nya sangaat di luar konteks since Superman is no ruler and his power is “physical power” WB why you release this goddamn movie and ruin my favorite character

Berdasarkan GDP waktu itu

[i] httpswww.youtube.comwatchv=c-rxSEJlPCY

[ii] httpwww.worldbank.orgennewsfeature20151208indonesia-rising-divide

[iii] httpbps.go.idbrsview1158

Merevisi Ekonomi Minyak

“If we don’t find a solution to burning oil for transport, when we then run out of oil, the economy will collapse and society will come to an end” – Elon Musk

Ada sebuah cerita menarik yang suka saya baca saat saya masih kecil, cerita tersebut berjudul Tintin: Si Kuping Belah. Diceritakan, sang protagonist Tintin harus berkelana ke Amerika Selatan untuk menyelidiki misteri hilangnya sebuah patung kuno. Dalam petualangannya, Tintin justru terjebak dalam perang perebutan lahan minyak antara General American Oil dan British South-American Petrol, tak tanggung-tanggung, saking berkuasanya kedua perusahaan tersebut, dua negara independen dapat diadu domba (meskipun keduanya dipimpin oleh diktator) untuk merebut lahan minyak. Sebagai tambahan, cerita tadi ditulis sekitar tahun 1930an.

Meskipun ditulis hampir 80 tahun yang lalu, tetapi konteks mengenai minyak masih belum banyak berubah. Cairan hitam tersebut masih memegang peranan penting untuk menjalankan ekonomi dunia, atau bahkan semakin penting. Hampir semua negara bergantung pada supply minyak. Seperti di cerita Tintin, sesekali juga terjadi sengketa mengenai hak pengelolaan minyak (..berbicara mengenai Blok Mahakam). Bagi saya sangat menakjubkan bagaimana selama 80 tahun terakhir sumber energi kita belum berubah secara signifikan. Dalam bahasa sederhana, dunia disandera oleh minyak. Jika besok seluruh cadangan minyak di bumi tiba-tiba menghilang saya cukup yakin kiamat kecil akan terjadi, seperti yang diprediksi oleh Elon Musk maka ekonomi dapat kolaps dengan sangat cepat.

Sedikit Sejarah Tentang Standard Oil

Orang pertama yang menjadi milyuner di Amerika bernama John D Rockefeller, Rockefeller mendirikan Standard Oil yang menikmati monopoli total antara tahun 1870an sampai akhir 1890an. Di awal 1900an Standard Oil terbukti melakukan monopoli yang merugikan dan dipecah menjadi perusahaan yang lebih kecil. Saat masa-masa monopoli, Rockefeller dan Standard dapat menurunkan harga minyak untuk menekan kompetisi dan membuat konsumen dimanja dengan minyak murah (Ehm, familiar dengan kondisi ini di tahun 2014-15?). Meskipun Standard Oil dan praktik monopolinya tidak akan kita jumpai lagi (dengan segala peraturan yang ada untuk mencegah monopoli) di dunia modern, tetapi ada satu “warisan spiritual” yang diwariskan yaitu monopoli oleh minyak di banyak sektor modern (transportasi, energi, dll)

Sekarang

Tidak sulit untuk melihat monopoli minyak, saya menebak bahwa 90% transportasi darat kita menggunakan minyak, angka yang tepat adalah 86%. Untuk energi, tebakan saya 25% konsumsi energi menggunakan minyak, angka yang tepat kurang lebih 30% (perlu dicatat bahwa penggunaan batu bara, salah satu jenis fossil fuels, mencapai 33%). Jika besok tiba-tiba seluruh minyak di dunia menghilang maka 1/4 Indonesia bisa mati lampu dan minimal 80% kendaraan darat tidak akan beroperasi (Mungkin di Indonesia sampai 99% kendaraan darat karena saya belum pernah melihat mobil gas). Dalam dunia yang memperjuangkan demokrasi, minyak adalah diktator yang memerintah sebuah negara Aristokrat dimana rakyatnya tidak punya pilihan selain terus bergantung kepada sang raja.

Kita punya pilihan

Arab Spring terjadi saat rakyat di timur tengah bosan ditindas oleh penguasa, dipicu oleh aksi bakar diri Tarek Bouazizi di Tunisia, rakyat timur tengah akhirnya sadar bahwa mereka punya pilihan dan memberontak untuk melengserkan rezim korup yang sudah bertahun-tahun berkuasa. Meskipun paska Arab Spring banyak negara yang kondisinya masih belum stabil tetapi saya pribadi melihat Arab Spring sebagai langkah yang perlu untuk merevisi kebijakan negara-negara di Arab.

Menurut saya, industri energi saat ini membutuhkan sebuah Oil Spring, untuk memberontak terhadap dominasi penggunaan minyak. Jika diperhatikan, hampir semua negara di dunia tergantung kepada supply minyak. Saat harga minyak naik maka beban banyak negara akan semakin meningkat, terutama negara berkembang. Menaikan harga minyak di dalam negeri tidak mudah, apalagi jika sudah dimanja dengan subsidi (bisa-bisa di demo “kaum intelek” yang bolos kelas).

Ketergantungan dunia terhadap minyak juga membuat minyak sering dijadikan alat agresi politik di tingkat internasional, seperti di pertengahan 70an saat Arab Saudi mengembargo minyak. Praktik ini dikenal dengan sebutan Petroagression. Selain digunakan sebagai alat politik, minyak sendiri bisa menjadi kejatuhan sebuah negara, contohnya seperti Russia yang hampir mengalami resesi sekarang karena harga minyak yang rendah dan embargo barat atau Nigeria yang kehilangan output normal minyaknya karena ladang minyaknya diserang oleh milisi.

Menginisiasi Oil Spring atau memiliki kesadaran bahwa kita punya banyak pilihan energi selain minyak harus dilanjutkan dalam langkah konkret. Saya mencantumkan quotes dari Elon Musk diatas karena saya mengagumi keberaniannya untuk mendirikan perusahan yang antara lain membuat 100% mobil listrik (Tesla) dan penyedia listrik dari surya (Solarcity). Langkah konkret seperti yang dilakukan Mr Musk lah yang dibutuhkan dunia dan Indonesia secara khusus.

Yang bisa dilakukan di Indonesia

Hanya ada satu perusahaan Indonesia yang secara konsisten masuk peringkat Fortune 500, yaitu Pertamina. Di tahun 2013 ada satu perusahaan Indonesia lain yang berhasil masuk Fortune 500 dan perusahaan itu adalah….PLN. Yap, perusahaan yang sering mematikan listrik saat saya mau ujian tersebut masuk salah satu perusahaan “terbesar” versi Fortune. Untungnya parameter yang digunakan untuk mengukur peringkat Fortune 500 bukan dari sisi Inovatif dan Kepuasan pelanggan (yang tidak dimiliki PLN saat ini) melainkan hanya dari pemasukan dan laba.

Langkah yang bisa dilakukan untuk PLN adalah memberikan pelanggan Pilihan terhadap sumber energi yang digunakan pelanggan. Beberapa sumber energi punya keunggulan lebih dibandingkan minyak, mari ambil contoh Tenaga Surya. Sejauh yang saya tau, tenaga surya masih tersedia secara gratis, artinya meski tiba-tiba ada perang di Arab Saudi, Venezuela, atau Russia, tenaga surya masih tetap gratis. Bahkan, saya memprediksi tenaga surya akan, Gratis sampai kapanpun. Kesulitan dalam memanfaatkan tenaga surya adalah alat yang dibutuhkan(umumnya panel surya) mahal. Kesulitan ini dapat diakali dengan menggunakan sistem leasing sehingga beban pelanggan dapat dibagi menjadi misalnya 10 tahun. Dengan leasing, bayangkan pelanggan membeli Iphone seharga 10 juta yang dibagi 10 tahun, maka tiap tahun pelanggan hanya perlu membayar 1 juta, dan tiap bulan hanya perlu membayar 84 ribu. Flat.

Jika argumen yang diberikan adalah di malam hari matahari tidak bersinar maka ada teknologi bernama baterai bisa digunakan untuk menyimpan energi saat matahari bersinar disiang hari.

Akhir cerita Tintin

Di akhir cerita Tintin kuping belah, diceritakan bahwa ternyata tidak ditemukan minyak di lahan sengketa. Akhirnya kedua negara tadi ditinggalkan oleh perusahaan yang mensponsori perang dan menjadikan kondisi politik, sosial, dan ekonomi di negara tersebut tidak stabil. Saya pun yakin, jika dunia terus menerus tergantung pada minyak maka saat kita ditinggalkan oleh minyak (cepat atau lambat) maka masa depan yang akan kita hadapi suram. Di Indonesia, kita yang dulu kaya minyak dan sekarang cadangan minyak kita semakin menipis mulai merasakan efek buruk ketergantungan terhadap minyak. Saat ini kita ada di masa yang tepat dimana ilmu pengetahuan dapat menyediakan solusi untuk mendiversifikasikan sumber energi kita. Akankah kita terus bergantung atau sebaliknya?

Ps. Saya lupa mencantumkan, minyak dan saudaranya sesama bahan bakar fosil adalah salah satu sumber energi paling kotor yang ada. Dampak lingkungan yang timbul bisa jauh lebih besar dibandingkan dampak ekonomi yang disediakan

Jalan dan Hujan

Konon, salah satu cara mengukur tingkat kesejateraan suatu Negara adalah dengan pendapatan per kapita, GDP, angka harapan hidup dan sejenisnya. Tetapi diakhir bulan Mei dua tahun lalu(2013), dibawah rintik hujan sebuah pertanyaan menggelitik muncul di benak saya. Apakah mungkin kesejahteraan suatu Negara diukur dari kondisi jalanan Negara tersebut?

Saat hujan tadi-terima kasih kepada Global Warming yang menyebabkan anomali cuaca di bulan Mei- banyak jalanan di Depok yang tergenang dengan air hujan, sebagai informasi jalanan yang saya maksud berada di daerah Kukusan Kelurahan berdekatan dengan kompleks Universitas Indonesia. Saat itu saya baru saja pulang dari perkuliahan menuju kosan dengan berjalanan kaki. Di sepanjang perjalanan saya, celana saya terciprati oleh banyak kotoran tanah yang bertebaran kala hujan.

Tak cukup dengan cipratan, di beberapa tempat saya harus melangkahkan kaki saya ke dalam genangan yang sangat dalam (yang menurut prediksi saya dari luas areal dan kedalaman genangannya cukup untuk memelihara beberapa ikan). Lalu, keadaan mental bangsa kita yang kalau sudah diatas motor semaunya sendiri semakin memperparah kondisi saya, beberapa kali motor yang ngebut melewati saya dengan seenaknya menciprati pakaian saya yang memang sudah kotor.

Sesaat setelah “dimandikan” oleh beberapa pengendara motor yang terburu-buru, perjalanan pulang saya lanjutkan dengan menggerutu serta beberapa makian pendek. Setelah beberapa langkah saya lewati, ternyata kemalangan belum jauh-jauh dari saya. Sebuah lubang besar yang tertutupi oleh genangan gagal saya hindari. Dan Jleb, tanpa peringatan kaki saya masuk ke lubang tadi (yang lagi-lagi cukup dalam) dan sandal jepit yang saya kenakan putus.

Mungkin pembaca bertanya, bagaimana mungkin sebuah lubang besar yang menganga tidak dapat dihindari padahal penulis sudah berjalan kaki? Jawabannya simple, genangan kecokelatan yang menutupi lubang tadi berhasil dengan sukses mengelabui saya untuk melangkahkan kaki tanpa khawatir.

Dengan frustasi saya mencoba untuk menyambungkan kembali sandal jepit yang putus,dan setelah sadar usaha saya untuk menyambungkan sandal sia-sia. Maka saya putuskan untuk membuang sandal jepit tadi (tentunya ke tempat sampah penduduk, karena tidak ada tempat sampah dari pemerintah di sepanjang jalan) dan melanjutkan perjalanan pulang. Dengan bertelanjang kaki saya mencoba mengambil resiko berjalan di aspal Depok. Beberapa langkah awal yang saya coba, cukup menyakitkan fisik dan hati.

Dari segi fisik, ternyata banyak sekali batu kecil yang bertebaran di jalan dan batu kecil tadi tanpa ampun menusuk kaki saya. Saat pandangan saya edarkan ke sekeliling saya, tampak banyak sekali batu kecil bahkan beberapa batu kerikil yang akan cukup sakit kalau terkena kaki saya. Pikiran negatif saya membisiki kekhawatiran tentang paku yang mungkin tertutupi genangan air (konon ditebari dengan sengaja untuk menggembosi ban kendaraan bermotor).

Dari segi hati, cukup menyakitkan bahwa orang-orang yang melihat live kejadian putusnya sandal saya hanya tertawa saja. Beberapa orang yang saya lihat sedang nongkrong juga tanpa malu-malu terlihat sama-sama menertawakan. Meskipun jika menjadi penonton mungkin saya akan ikut tertawa (bahkan setelah kejadian tadi berlalu saya pikir musibah yang saya alami lucu juga) tetapi bukankah tidak baik tertawa diatas penderitaan orang lain? Inikah keadaan sejati bangsa kita yang dicap sebagai bangsa “ramah” padahal di dalamnya berisi orang-orang yang dengan senang hati tertawa saat orang lain kesulitan.

Setelah shock dengan sakitnya jalanan dan untuk menghindari tatapan geli orang-orang yang melihat saya bertelanjang kaki maka saya memutuskan untuk membeli sepasang sandal jepit dan sisa perjalanan pulang terasa berkurang menyakitkan. Sesaat kemudian saya sudah sampai di di depan Kosan saat saya teringat baju saya sudah habis dan saya belum mengambil laundry. Maka saya berjalan menuju tempat laundry, jalanan menuju tempat Laundry adalah sebuah turunan yang ternyata sangat licin saat hujan turun. Beberapa kali saya berakrobat untuk menghindari slip dan musibah lebih lanjut.

Selesai transaksi dan baju saya sudah saya bawa, saya bergegeas pulang. Turunan yang tadi saya lewati berubah menjadi tanjakan, di samping saya seorang penjual bakso tampaknya baru keluar untuk berjualan. Dengan ramah ia menyapa mas-mas laundry, dan mereka bertukar senyum. Hal yang mau tidak mau membuat saya ikut tersenyum.

Kebetulan saya dan penjual bakso tadi menaiki tanjakan bersama, dan saat kami menaikinya. Prang! Penjual bakso tadi terpleset di tanjakan dan gerobak yang ia bawah terguling. Sekilas saya melihat dengan horror saat gerobak penjual bakso tadi menghantam kepala si penjual bakso. Saya shock dan terpana. Dunia benar-benar berhenti sejenak saat kejadian tadi berlangsung, karena saya masih bisa mengingat dengan detail saat mangkok-mangkok dan ember si penjual bakso terpental dari gerobak yang Dia bawa dan terjatuh di jalanan. Sejenak saya tak mampu bergerak.

Mas-mas laundry adalah orang pertama yang bereaksi, Ia cepat-cepat memapah tukang bakso dan mendudukannya di depan Laundry. Beberapa orang langsung mendirikan gerobak bakso yang terguling, dan saya memunguti beberapa mangkuk serta ember. Ajaibnya tidak ada mangkuknya yang pecah. Tak ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Tak ada yang melihat dengan tatapan geli, orang-orang ini membantu dalam diam.

Lucunya si penjual bakso adalah orang yang tertawa pertama, setelah gerobak dan mangkuk-mangkuk tadi sudah kembali ketempatnya ia bersikeras untuk melanjutkan berjualan. Mas-mas laundry mengingatkan penjual bakso untuk lebih hati-hati di jalanan dan mereka kembali bertukar senyum saat saling melambaikan tanda perpisahan seakan tidak terjadi apa-apa.

Semua kejadian yang saya alami dan saksikan hampir semuanya berasal dari jalanan, jika dihubungkan dengan pertanyaan saya diawal. Kalau saja jalanan dapat dijadikan tolak ukur kemajuan negara maka kita adalah Negara yang sangat-sangat yah begitu deh, terbukti dari jalanan yang penuh krikil, lubang, licin dan berbau kejahatan.

Di akhir, saya sering mendengar kabar kalau sebenarnya anggaran untuk jalanan masih sering dikorupsi oleh pihak opportunist. Kalau saja itu benar maka saya akan mengusulkan bahwa seharusnya hukuman untuk koruptor sebaiknya ditambah dengan dijedotkan kepalanya ke gerobak bakso biar mereka bisa merasakan hasil perbuatan mereka terhadap rakyat yang mati-matian berjuang diatas jalanan yang mereka korupsi anggarannya.

Semoga kedepan ada perbaikan!

Happy 6th Anniversary

If I’m a polar bear, then you’re a penguin.
We stand on the opposite polar of personality, yet here we are, for the 6th time in a row.
I learn from our time, that the night are empty without stars, and stars are dim without a night.
It’s about balance,
And dear, I found my balance on you.
Happy Anniversary!
Much love

17 November 2015

Di Toko Buku

Hey, Kau suka membaca? Bagus, aku juga suka!

Apa buku favoritmu? Tolstoy? Asimov? JK Rowling? Oh, Bastian Tito? Err..biar kuingat judulnya..Ah ya! Wiro Sableng! Kamu suka selera lokal ya?

Ada yang bisa saya bantu? Ada buku yang kamu cari? Apa? Pengantar Fisiologi Sherwood? Apa itu? Oh..buku pelajaran, menyenangkan kah untuk dibaca? Ah, Wajib untuk dibaca? Sebentar saya cek stok nya.

Ternyata buku itu tidak kami jual, mungkin koleksi lain? Ini salah satu koleksi favorit saya: Mahabhrata. Huh? Sudah jadi sinetron? Kau pasti bercanda! Sejak kapan sinetron lebih asik dari membaca?

Bagaimana kalau ini: Cerpen Sherlock Holmes Sir Arthur? Apa? Terlalu rumit? Yang lebih ringan? Hem, kau bisa cari di rak sebelah sana.

Hey, kau menemukan apa yang kau cari? Tidak? Kemarilah!

Kau suka membaca kan? Bagus, aku juga suka!

Ini untukmu! Jangan malu-malu menerimanya! Merepotkan? Tidak, tidak merepotkan sama sekali! Harganya? Hahaha, tenang saja, ini hadiah untukmu, bukan barang dagangan!

Kau suka? Akan kubacakan kalimat awalnya untukmu;

“Hal yang paling sering kau cari, kadang ada tepat di depanmu”

Malam Tanpa Matahari

Pernahkah kau merasakan sepi ditengah keramaian?

Semuanya tertawa dan kau tertunduk. Sendirian. Menatap uraian air mata yang tak terbendung. Ditemani bayangan setia yang hanya membisu. Kau terperosok ke jurang tanpa dasar. “Keputusasaan” kata mereka. Langit kau selidiki, bulan kau tanyai tapi jawaban itu tak kunjung menghampiri.

Dimalam gelap yang tak ditaburi bintang, bahkan bayangan mengacuhkanmu. Hanya untaian musik yang terdiri dari isak tangismu-lah yang bisa memberi suara di heningnya malam. Dadamu sesak menahan sejuta perasaan sepi. Rindu tak seindah langit biru

Inikah mahalnya harga kebahagiaan? Kau memperotes pada semilir angin yang tak menjawab. Sedu sedanmu terasa bagai musik kemenangan ditelinga mereka. Memang hidup itu ironi dibalut realita. Kau tersingkir dari orbit eksistensi. Namamu dilupakan dari ingatan mereka. Wajahmu mulai pudar dari kenangan mereka. Inikah kebahagiaan yang ditawarkan rumus alam? Yang kian hari menawarkan “kebahagiaan” tentang keseimbangan?

Tetapi mentari masih bersinar, bulan masih benderang dan kicauan burung masih bernyanyi mengabari eloknya ufuk di pagi hari. Kenapa kau tertunduk malu? Saat minoritas, menggeliat menantang kemungkaran? Kau bukan salmon yang mati melawan arus. Kau adalah Mawar Merah yang merekah. Wangimu mengundang alam untuk menghirupnya, durimu menantang dunia untuk waspada pada keindahan. Dibalik Rahasia ada Rahasia. Dan tuhan pun menyimpan Rahasia buat kau, buatku dan buat kita semua.

Rembulan

Rembulan tersembunyi dibalik jeruji petang. Malu malu menawarkan sinarnya pada saentaro dunia. Dibelahan bumi lain, matahari hampir mencapai zenit, membakar mereka yang tak terlindungi. Di satu sisi para penghuninya terlelap memimpikan esok, di sisi lain para pejuang takdir dengan gagah berani melawan terik demi esok. Mereka menyandang, membawa, mendorong semua beban hidup

Mulut mereka tak mengeluarkan makian, peluh mereka tak mereka hiraukan, hanya tekad membara mengiringi tiap langkah mereka. Mereka menantang dunia, dunia yang bisu akan penderitaan marjinalitas. Dan kita? Dengan bangganya tidur dengan udara kalengan, dengan bangganya menatap layar kehampaan. Kita berpijak diatas penderitaan mereka

Dan MEREKA? Mereka tertawa diatas penderitaan kaum marjin. Mereka mabok, dibius tuak kekuasaan. Mata mereka hijau, tatapan mereka dihiasi untaian kebohongan. Mulut mereka membisiki hasutan kegelapan. Dan mereka ada di singgasana kekuasaan, bersulang menertawakan kaum marjinal